Jalan Vaksinasi dengan Vaksin dengan Ada Terus Berlanjut

0
81

Suara. com – Besar Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio, mengucapkan proses vaksinasi yang masa ini masih berlangsung sedang bisa tetap berlanjut, kendati muncul beragam varian perdana virus Corona.

Meski diakui varian mutakhir virus berimbas terhadap turunnya efikasi vaksin, namun sebagaimana arahan organisasi kesehatan negeri (WHO) hal tersebut tak menjadi soal selama efikasi vaksin masih di tempat 50 persen.

Penurunan efikasi vaksin itu, kata Amien, seperti halnya terjadi pada Afrika Selatan.

“Vaksin itu mengalami penurunan efikasi terhadap virus yang beredar di sana. Tetapi turunan itu meski ada yang sampai 20 obat jerih, misal tadinya 80 tip turun jadi 60 upah tetapi sesuai arahannya WHO selama efikasi di berasaskan 50 persen itu masih bisa dipakai vaksin, itu pedoman pertama, ” sekapur Amien dalam diskusi daring, Minggu (16/5/2021).

Baca Juga: Pakar: Vaksin Covid-19 Kurang Efektif Lawan Varian Virus Corona India

Dampak lain aliran keberadaan varian baru lanjut Amien ialah penyebaran virus Corona yang bisa lebih cepat menular atau bisa menularkan ke lebih banyak diantara kita. Kemduian menjadi lebih suram untuk didiagnosis, terlebih menggunakan PCR yang memang tidak bisa mendeteksi.

“Yang ketiga mungkin menyebabkan gejala sakitnya lebih mengandung atau mempercepat kematian, ” kata Amien.

Walau begitu, Amien mengucapkan saat ini mayoritas virus Corona yang beredar pada Indonesia adalah varian lama. Tetapi bukan berarti varian lama itu tidak kritis, mengingat kematian akibat Covid-19 sebelumnya justru disebabkan sebab varian virus lama.

“Jadi itu tetap kita kudu memperhatikan varian-varian lama serta itu kita harapkan mampu di-cover oleh vaksinasi sekarang, ” kata Amien.

Karena itu Amien berpandangan proses vaksinasi dengan masih berlangsung dengan jenis vaksin yang ada, masih dirasa cukup efektif. Namun ia juga mengingatkan supaya Indonesia tetap punya kecakapan dalam memantau sejauh mana mutasi virus Corona dalam negeri terjadi.

Menyuarakan Juga: Studi Temukan Anak Terinfeksi Covid-19 Minim Alami Demam

“Kalau misalkan satu diantara varian atau mutan tersebut mendominasi virus yang tersedia di Indonesia ya tentu kita harus mempertimbangkan menyelaraskan vaksin yang ada, ” tandas Amien.

Sementara itu, hal senada dikatakan Deputi II Pejabat Staf Presiden Abetnego Tarigan. Ia berujar meski varian baru diakui sudah masuk Indonesia, tetapi untuk sebaran virus di dalam negeri masih didominasi oleh varian lama.

“Sehingga dari sisi kami dari pemerintah masih akan meneruskan vaksinasi. Karena apapun tersebut akan menurunkan risiko kita terkait dengan Covid tersebut, ” ujarnya.

Siapkan Skenario Terburuk

Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani meminta pemerintah untuk menyiapkan skenario terburuk dalam menghadapi varian baru Covid-19 dengan telah masuk ke Nusantara, khususnya pasca Hari Umum Idul Fitri 2021.

“Saya ingin pemerintah menyiapkan ringkasan terburuk yang sangat mungkin kita hadapi pasca keadaan raya Idul Fitri itu, ” ujar Netty dalam interupsinya pada Rapat Sempurna Pembukaan Masa Sidang V Tahun Sidang 2020-2021 di Ruang Paripurna DPR MENODAI, Senayan, Jakarta, Kamis (6/5/2021).

Hal itu ditegaskan Netty karena tahu beberapa penyebab awal diantaranya, sesuai dengan konferensi pers Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kalau terdapat tiga varian gres Covid-19 yang sudah terdeteksi masuk ke Indonesia, yaitu B. 1. 17 daripada Inggris, B. 1. 617 dari India, dan B. 1. 351 dari Afrika Selatan. Bahkan, sesuai informasi dari Kemenkes, varian Covid-19 tersebut sudah terdeteksi 16 kasus di beberapa provinsi.

“Tentu saja ini semakin parah karena kita membaca di berita adanya mafia karantina dalam bandara yang melibatkan tetap saja bukan hanya karakter kecil. Oleh karena itu, saya juga saya meminta agar penegakan hukum dikerjakan seadil-adilnya untuk bisa membongkar mafia yang ada dalam bandara, ” ujar Politisi PKS ini.

Netty juga menggaris bawahi adanya mafia tes belai (swab test) antigen masa ulang yang terungkap pada Bandara Kualanamu, Medan, Sumatra Utara (Sumut) beberapa zaman lalu. Menurut Netty, situasi ini mencederai kemanusiaan seluruh rakyat Indonesia karena bersifat kejahatan kemanusiaan.

Sebelumnya, Menkes, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, ada perut kasus Covid-19 di Nusantara yang terjadi akibat penularan varian mutasi dari India. Dua kasus tersebut dilaporkan ditemukan di DKI Jakarta.