Muslim Myanmar Digantung Junta Tentara di Masjid, Dipakaikan Baju Wanita

0
108

Suara. com kacau Bulan Ramadhan 1442 Hijriah dijalani secara penuh ketakutan oleh pengikut Muslim di Myanmar. Tersebut setelah junta militer bagak membunuh jemaah yang beruang di masjid.

Hal itu terjadi dalam tengah kota Yangon, di mana mayoritas warga muslim Myanmar bermukim. Pada pekan pertama Ramadhan, satu Muslim digantung junta militer dalam masjid.

Tak hanya itu, jemaah itu digantung dengan dipakaikan baju perempuan. Namun hingga kekinian, junta tentara belum memberikan keterangan resmi terkait tragedi tersebut.

Daw Zi, bukan nama sebenarnya, mengakui menyaksikan militer Myanmar mengeksekusi perkumpulan tersebut. Daw Zi tercatat di antara yang melayat pemuda yang sering melindungi masjid itu.

Baca Juga: Viral! Massa ‘Gowes for Democracy’ Tuntut Junta Myanmar Diadang Polisi

“Sangat menyedihkan dan sangat sulit kondisi pada sini… Pemuda itu tunggal di masjid saat ditangkap dan meninggal, ” sekapur Daw Zi, bukan nama sebenarnya, perempuan berusia 35 tahun.

Masyarakat Muslim yang tinggal dalam seputar tempat tinggalnya tersebut termasuk orang Myanmar sendiri, orang Rohingya dan Muslim dari Asia selatan.

“Kami takut ke masjid pada malam hari. Tak ada yang bahadur. Kami pulang ke sendi sebelum maghrib dan melayani tarawih di rumah. Ana buka puasa juga dalam rumah. Tak aman salat di masjid, ” tambahan perempuan keturunan Rohingya itu kepada wartawan BBC News Indonesia , Endang Nurdin.

Kabar dengan terjadi di Mandalay dalam hari pertama Ramadhan selalu terdengar oleh mereka dalam Yangon.

Seorang pria berumur 28 tahun meninggal kala tentara melepaskan tembakan ke arah masjid Maha Aungmyay, Mandalay.

Baca Juga: 5 Negara dengan Durasi Waktu Pertarakan Terlama

Kurun itu, sang pemuda pusat tertidur, setelah beribadah dalam masjid, menurut Myanmar Now , jalan online independen.

Media ini mengutip para saksi mata yang mengatakan tentara langsung melepaskan tembakan dan Ko Htet, muda itu, ditembak, di dada dan meninggal di wadah.

Daw Ma Aye, perempuan berusia pertengahan 20an, yang tinggal pada Yangon mendengar kabar tersebut dan mengatakan, “Kami cocok sekali tak aman. Mereka seolah memberi kami privilese semu yang dapat diambil kapan saja. ”

“Akan selalu tersedia penahanan tak terduga-duga minus alasan apapun. Jadi serupa sekali tak aman untuk salat di masjid, ” katanya lagi kepada BBC News Indonesia.

Ketakutan menjadi sasaran

Selain Daw Zi, dan Daw Ma Aye, anak muda Muslim lain, U Jee, bukan tanda sebenarnya, juga merasa was-was dan selalu berwaspada, & takut menjadi incaran.

“Tidak, kami tak bisa tarawih karena jam malam. Namun militer juga secara rutin dan random memeriksa masjid. Mereka dapat menahan karakter yang berkunjung ke langgar dan membuat orang takut pergi ke masjid, karena itu sejumlah masjid menutup, ” cerita U Jee.

“Selama siang hari, sebelum buka pertarakan, orang-orang di tengah kota mencoba menjual makanan pada tengah situasi penuh efek dan bahaya. Mereka menetapkan menjual sesuatu untuk menyambung hidup. ”

“Setelah jam 19: 00 malam, semuanya tutup, orang-orang di dalam rumah dan berdiam. Sepanjang malam, penuh polisi dan tentara yang berpatroli di seputar pusat kota, ” tambahnya.

Daw Zi, Daw Ma dan U Jee termasuk anak-anak muda dengan ikut serta dalam protes mulia yang pecah setelah militer melancarkan kudeta pada 1 Februari lalu.

Dari ketiga mereka, cuma Daw Zi yang karakter Rohingya.

Cecep Yadi, seorang warga Indonesia yang berteman baik secara ketiganya saat tinggal dalam Yangon, mengatakan kondisi era ini benar-benar traumatis untuk semua.

“Ramadan tahun lalu sangat peaceful (damai) yah… Aktifitas seperti biasa… Tempat belanja, pasar, restoran buka seperti biasa.. Warga Muslim juga bertarak dengan lancar dan tenteram, ” kata Cecep.

Namun dalam dua bulan belakang, anak-anak muda Myanmar, tak terkecuali termasuk yang Muslim berada dalam kondisi kewaswasan.

“Mereka betul-betul trauma dan sedih, tahu orang meninggal setiap keadaan, di depan mata… Meninggal karena disiksa, dibunuh sebab polisi dan tentara, ” kata Cecep Yadi, dengan meninggalkan Myanmar akhir Maret.

“Saya tunggal sangat trauma dua bulan di zona perang, menyaksikan apa yang terjadi & dengan perjuangan keluar daripada Myanmar. Kesedihan dan pukulan terberat yang pernah kami alami, ” tambah Cecep.

Ia mengutarakan upaya untuk keluar sejak negara itu cukup mengandung dengan surat dari KBRI dan penjagaan tentara dalam polisi sampai ke bandara.

Protes mulia yang diikuti ribuan orang di banyak kota di Myanmar sepanjang Maret lalu dibalas militer dengan kekerasan dan menyebabkan paling tidak 700 orang meninggal, termasuk puluhan anak-anak, sementara banyak lainnya ditahan.

Tambah suram bila militer mendapat kekuasaan lebih

Ronan Lee, seorang pengamat dari International State Crime Initiative – masyarakat yang meneliti dokumen kekejaman negara – mengatakan perihal Muslim di Myanmar khususnya warga Rohingya akan “tetap suram. ”

Lee mengatakan kondisi Muslim Rohingya akan semakin parah bila junta mendapatkan kewenangan lebih.

Ia mengatakan, sesuai dikutip South China Morning Post, mereka “sangat rentan atas penyiksaan lebih lanjut oleh militer. ”

Lee, yang serupa penulis buku Myanmar’s Rohingya Genocide: Identity, History and Hate Speech, mengatakan sering matinya internet dan penahanan para wartawan juga menyusun kondisi lebih sulit buat mengangkat nasib warga Rohingya.

Nasir Zakaria, direktur eksekutif Rohingya Culture Centre yang berkantor dalam Chicago, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa warga Muslim Rohingya berada “di ambang bahaya besar. ”

“Tidak ada cara buat melindungi mereka. Militer sangat kuat. Orang Rohingya bisa ditahan, dibunuh, diculik dan diperkosa, ” kata Nasir.

Sementara Ronan Lee mengatakan kekejaman yang dihadapi warga sipil Rohingya pada 2017 termasuk pembunuhan, penahanan, perkosaan dan itu sama sekali tak berdaya menghadapi tentara dengan senjata penuh.

Lee mengucapkan sekitar 140. 000 masyarakat Rohingya dikumpulkan di kamp konsentrasi di negara arah Rakhine, tempat mereka dipaksa tinggal sejak 2012.

Ia mengatakan itu yang berada di sungguh kamp menjalani apa yang ia sebut “sistem aparteid” dengan pembatasan bergerak tercatat ke desa-desa sekitarnya, kanal pendidikan, kesehatan dan berjalan juga terbatas.

“Genosida yang didokumentasikan oleh PBB tak berubah banyak dalam tahun-tahun terakhir ini dan dalam desa-desa Rohingya terlihat kekurangan dan ketakutan terhadap militer, ” kata Lee mengacu pada laporan PBB di dalam 2019 tentang kondisi Rohingya.

Dalam masukan itu PBB menyimpulkan berlaku “risiko serius aksi genosida akan kembali terjadi. ”

Sejak kudeta 1 Februari lalu, para pengamat mengatakan mayoritas etnis Bamar lebih bersimpati atas nasib warga Rohingya.

Salah satu gerombolan sipil bulan lalu makin berjanji untuk mencari keseimbangan bagi kelompok minoritas itu. Tetapi tak banyak yang mereka lakukan untuk melindungi Rohingnya dari militer.

Nay San Lwin, pendiri Free Rohingya Coalition – jaringan global para-para aktivis Rohingya – membuktikan kekhawatiran bahwa pemimpin militer Min Aung Hlaing, dengan merebut kekuasaan dari tadbir sipil pimpinan Aung San Suu Kyi, akan mengeluarkan kekerasan lagi terhadap awak Rohingya.

“[Min Aung Hlaing] pernah mengucapkan bahwa krisis Rohingya merupakan masalah yang belum selesai sejak Perang Dunia II, ” kata Nay San Lwin.

Untuk Daw Zi dan teman-temannya, anak-anak muda Myanmar, dalam tengah ketidakpastian ini, dia hanya mengatakan, “Kami tidak tahu apa yang akan terjadi namun kami tentu ingin demokrasi untuk kebebasan. ”