Edhy Prabowo Ditangkap KPK, Menko Luhut Tetap Dukung Ekspor Benih Lobster

0
614

Suara. com semrawut Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut tidak ada yang lengah dalam Peraturan Menteri (Permen) Bagian 12 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting dan Rajungan pada Wilayah RI.

Walaupun begitu ia tidak menampik ada berapa mekanisme dari peraturan mengenai ekspor benih lobster tersebut dengan mesti diperbaiki.

Hal tersebut disampaikan usai Luhut menggelar rapat perdana bersama Eselon I Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Tadi kita evaluasi sebentar mengenai lobster siap kalau dari aturan yang tersedia yang dibuat permen yang dibuat tidak ada yang salah, ” kata Luhut yang saat itu menjabat sebagai Menteri KKP Ad Interim di Kantor KKP, Timah Medan Merdeka Barat, Jakarta Was-was, Jumat (27/11/2020).

Baca Juga: Peristiwa Suap Edhy Prabowo, Pesan Luhut ke KPK: Jangan Berlebihan

Luhut mendapatkan informasi dibanding pihak KKP bahwa program ekspor benih lobster itu juga bermanfaat bagi nelayan di pesisir daksina.

“Di pesisir daksina di mana, di situ serupa harus diperhatikan siklusnya dia selalu harus nebar sehingga jangan nanti seperti over fishing, ” ujarnya.

Meski begitu, Luhut menyebutkan apabila masih ada kira-kira mekanisme dalam penerapan Permen dengan mesti dievaluasi.

“Nah, kalau ada mekanisme dengan salah itu sedang kita pertimbangan dan sekarang dihentikan mungkin kira-kira waktu dan setelah nanti pertimbangan kita akan lanjutkan lagi jika memang bisa dilanjutkan, ” tambah Luhut.

Ekspor benih lobster kembali diperbicangkan publik setelah Men KP non aktif Edhy Prabowo dicokok KPK pada Rabu (25/11/2020). Ia ditangkap karena sangkaan kasus suap ekspor benih lobster.

Baca Juga: Sayangkan Edhy Prabowo Lakukan Suap, Luhut: Dia Sebenarnya Orang Baik

Dalam kasus suap ekspor benih lobster tersebut, penyidik KPK telah menetapkan tujuh orang tersangka. Mereka, yaitu; Menteri KKP Edhy Prabowo, stafsus Menteri KKP Safri dan Andreau Pribadi Misata, pengelola PT ACK Siswadi, staf isteri Menteri KKP Ainul Faqih dan pemberi suap Direktur PT DPP Suharjito, dan Amiril Mukminin.