Pesta Pernikahan Disebut Jadi Penyebab Naiknya Kasus Covid-19 di Sumbar

0
33

Suara. com – Pesta pernikahan di daerah zona merah ditengarai menjadi satu diantara faktor penyebab tingginya kasus nyata harian Covid-19 di Sumatera Barat.

“Seharusnya kegiatan pesta seperti pesta perkawinan dilarang dulu untuk daerah zona merah Covid-19 karena potensi penyebaran virus di situ sangat tinggi, ” sebutan Kepala Laboratorium Pusat Diagnostik & Riset Penyakit Infeksi Unand, DR dr. Andani Eka Putra, M. Sc di Padang, Minggu (11/10/2020).

Saat ini sebagian daerah masih mengizinkan pelaksanaan keramaian seperti pesta perkawinan. Real setiap pekan selalu masuk kawasan merah Covid-19 di Sumbar.

Andani menilai perlu ketegasan dari pemerintah daerah untuk melarang kegiatan keramaian itu sementara masa hingga kondisi stabil kembali.

Baca Juga: Isolasi Pasien OTG Corona, Pemda Bogor Siapkan Hotel Berkapasitas 300 Kamar

Selain faktor itu, masyarakat yang teledor dengan protokol kesehatan hingga tak menggunakan masker di luar sendi, kedatangan orang dari luar daerah yang tidak bisa dicegah & belum maksimalnya pengendalian pasien positif yang melakukan isolasi mandiri pula menjadi faktor pendukung tingginya penyebaran Covid-19 di Sumbar.

Untuk masyarakat yang abai tersebut sekarang sudah ada Perda Nomor 6 Tahun 2020 yang lupa satunya berisi sanksi bagi orang yang tidak bermasker di asing rumah.

Perda tersebut dinilai bisa meningkatkan kesadaran kelompok untuk menaati protokol kesehatan.

Melarang orang dengan datang dari luar provinsi hanya bisa dilakukan saat Pembatasan Baik Berskala Besar (PSBB). Solusinya langgeng kembali pada disiplin menerapkan aturan kesehatan. Selain itu orang dengan datang lewat pintu udara diminta melakukan tes usap PCR percuma di bandara.

Isolasi mandiri bagi pasien positif COVID-19 tanpa gejala juga menjadi faktor yang bisa menyebabkan peningkatan kasus positif COVID-19 di Sumbar.

Mengaji Juga: Anies Terapkan PSBB Transisi, Pengunjung Wajib Daya Buku Tamu

“Kondisi ini terjadi di DKI Jakarta. Pasien yang isolasi mandiri tidak bisa dikendalikan sehingga kadang curi-curi keluar, berpotensi menyebarkan virus pada yang lain, ” ujarnya.