Sejarah Yuni, Pekerja Domestik yang Dirumahkan Terimbas Pandemi Corona

0
53

Suara. com awut-awutan Pandemi Virus Corona berdampak besar bagi sejumlah posisi pekerja, salah satunya pekerja domestik alias pekerja rumah tangga (PRT). Aturan pembatasan sosial berskala tinggi (PSBB) yang diterapkan pemerintah melaksanakan mereka kehilangan pekerjaan.

Seorang pekerja domestik yang terkena imbasnya adalah Yuni Sri Rahayu. Pekerja domestik yang tergabung dalam Serikat Pekerja Domestik Sapu Lidi ini sudah dirumahkan sejak April 2020 lalu.

Yuni sebelumnya bekerja pada dua tuan di dua apartemen berbeda. Dia bekerja di apartemen yang berlokasi di kawasan Cilandak dan Jambar Indah, Jakarta Selatan.

Yuni menuliskan kisah tentang dirinya yang dirumahkan akibat pandemi Covid-19 ini. Tulisannya bisa dijumpai pada:
https://www.tungkumenyala.com/aku-tidak-akan-menyerah-dalam-situasi-pandemik/

Biar dirumahkan, Yuni mengaku sempat mendapat upah bulanan tanpa potongan. Namun, memasuki pertengahan bulan April, dia hanya mendapat upah senilai Rp. 2, 1 juta saja.

“Pada pekerjaan di tempat apartemen Cilandak, –saya dirumahkan bulan April 2020. Saya tetap diupah sebulan penuh tanpa potongan, meskipun dari pertengahan April saya telah dirumahkan dengan besaran upah Rp 2, 1 juta, ” sekapur Yuni kepada Suara. com, Rabu (27/5/2020).

Kekinian Yuni masygul. Dia tidak tahu, apakah gajinya di bulan Mei hendak dibayar secara utuh atau pasti kena potongan. Lantaran, pemotongan gaji bulanan merupakan problem bagi Yuni dan tentu juga keluarganya.

“Apakah majikan ekspat saya ini akan memberikan imbalan bulan Mei ini sama secara bulan April kemarin? Inilah dengan menjadi problema saya, karena sebenarnya, kehidupan saya dan anak kami tergantung dari pendapatan upah dengan setiap bulan saya terima, ” jelasnya.

Di wadah kerja lainnya, yakni di kondominium yang berlokasi di Pondok Elok, dia memang belum dirumahkan. Namun ada aturan dari pihak tadbir apartemen yang harus diterapkan.

Aturannya, untuk pekerja domestik yang bekerja kembali pergi –tidak tinggal bersama majikan– harus dirumahkan demi memutus ikatan penyebaran Covid-19.

“Karena untuk memutus mata rantai penyaluran Covid-19, maka pihak manajemen gedung apartemen menetapkan ketentuan bahwa PRT yang dengan kondisi pulang-pergi tatkala dirumahkan, ” beber dia.

Yuni mengatakan, sebenarnya pekerja domestik yang bekerja di apartemen tersebut masih bisa bekerja. Syaratnya, sang majikan harus membikin tulisan pernyataan kepada pihak pengelola apartemen.

“Akhirnya, majikan mampu mempekerjakan saya dengan peraturan dengan baru di saat PSBB tersebut, ” ungkap Yuni.

Pengurangan jam bekerja tentunya berpengaruh juga bagi Yuni. Dengan jam kerja yang relatif lebih kurang, maka penghasilan bagi Yuni serupa berkurang.

Semula Yuni senang karena majikannya masih mau mempekerjakan dia. Kata Yuni, sang majikan sempat menemui bagian apartemen untuk mengatur jam kerja Yuni. Pasalnya, setiap ada majikan yang kedapatan tidak melapor di pihak manajemen, maka pekerja pribumi yang bekerja pulang pergi tak diperkenankan masuk ke apartemen.

Jelas, kenyataan tersebut benar merugikan para pekerja domestik yang bekerja di sana. Bahkan, ada yang dirumahkan tanpa upah.

“Dengan keadaan inipun banyak PRT yang dirumahkan oleh majikannya tanpa diupah dan belum terang kapan bekerja, ” bebernya.

Singkat kata, majikan Yuni yang berada di apartemen dalam kawasan Pondok Indah mengirim perintah singkat. Pesan tersebut berisi, jika gaji Yuni juga dikurangi bersamaan berkurangnya jam kerja.

“Tapi saya kecewa saat majikan perempuan berbicara lewat WhatsApp bahwa dengan pengurangan jam dan keadaan kerja maka upah saya hendak dikurangi, ” jelas Yuni.

Yuni Sri Rahayu.

Biasanya, Yuni bekerja dari hari Senin hingga Jumat dengan waktu kerja selama 5 jam. Dengan begitu, dia mendapat gaji Rp dua, 3 juta setiap bulan.

Akibat pandemi corona dengan melahirkan kebijakan PSBB, Yuni saja bekerja tiga kali dalam seminggu dengan waktu kerja selama 4 jam. Dengan demikian, dia cuma menerima gaji sebesar Rp. satu, 5 juta tiap bulan.

“Saat pandemi itu akan menerima upah hanya Rp 1, 5 juta karena jam kerja menjadi 4 jam kegiatan dan hari kerja menjadi seminggu tiga kali saja. Majikan menjelaskan bahwa saya diupah per kehadiran Rp 100 ribu Jadi pada sebulan 15 kali datang pada sebulan dan ditambah 100 seperseribu untuk parkir, ” cetusnya.

Mencari Penghasilan Tambahan

Kekinian, Yuni menekuni pekerjaan baru, bisnis online. Melalui media sosial dia memeriksa menjajakan makanan ringan beku nama lain frozen food.

Yuni menyulap rumah kontrakannya yang berlokasi di Jalan Haji Tolib, Cipete Utara, Jakarta Selatan sebagai tempat usaha. Menurut Yuni, dalam era pandemi corona, makanan adalah keinginan pokok bagi masyarakat.

“Saya juga mencoba berjualan makanan ringan dan frozen food dengan saat ini semua orang kemaluan untuk makan. Pokoknya campur-campur tergantung minat pembeli, ” ungkapnya.

Dalam menekuni bisnis ini, Yuni terkendala masalah modal serta tempat penyimpanan barang dagangannya. Untuk itu, Yuni cuma menjual bahan dagangannya bagi orang yang telah memesan.

Dari hasil penjualan barang dagangannya, uang itu Yuni pakai untuk membeli bahan-bahan dagangan. Meski untuknya tidak banyak, namun cukup untuk biaya jajan bagi empat anaknya.

“Keuntungan memang tidak penuh, tapi setidaknya bisa untuk kekayaan jajan anak saya. Saya harus menguras untuk memenuhi kebutuhan tumbuh keluarga kecil saya karena hamba single parent, harus mencari makan sendiri untuk memenuhi kebutuhan, ” kata dia.

Selain makanan beku seperti sosis, kentang, dan nugget, Yuni juga menjual tas bikinan lokal melalui permintaan jual beli dan media baik. Meski untungnya tidak seberapa, namun banyak kawan Yuni yang berminat untuk membeli.

“Saya bersyukur walau untung sedikit dagangan saya ini banyak kawan dengan minat. Hanya dengan upload kehormatan di whatsapp dan facebook banyak pembeli memesan, barang saya antar ke tempat pembeli, ” berlanjut Yuni.

Hidup dengan gaji pas-pasan di ibu tanah air, apalagi saat pandemi corona, menghasilkan Yuni harus memutar otak. Sebab, dia punya tanggungan lain semacam tagihan kontrakan, kredit motor.

Yuni mengatakan, tagihan sewa kontrakan dan kredit motornya di setiap bulan berkisar di angka Rp 1 juta. Untungnya, kedua dakwaan yang membikinnya sakit kepala nominalnya berkurang akibat Corona.

“Namun saat pandemi ini hamba kurangi untuk membayar kontrakan dan setoran motor saya bisa berkurang, ” kata dia.

Lebih lanjut, Yuni berharap, pandemi Covid-19 yang melanda tanah tirta asegera berakhir. Dia berharap peristiwa kembali normal seperti sedia kurun agar bisa mencari pekerjaan hangat.

“Saya hanya berharap situasi pandemik Corona itu cepat selesai dan semua umum saya bisa mencari pekerjaan sedang, ” harap Yuni.

Baginya, pandemi corona membikin orang-orang untuk lebih cerdas dalam melakukan hidup, agar bisa bertahan pada situasi seperti ini. Yuni menambahkan, yang paling penting buatnya saat ini adalah kesehatan yang berlebihan.

“Situasi pandemi ini membuat ruang gerak kita dibatasi, tapi membuat kita lebih pandai agar bisa survive. Yang istimewa tetap semangat dan jaga kesehatan tubuh sambil mencari rupiah demi tumbuh yang mahal, ” tutupnya.