Lebu Nawas Merayu Tuhan: Aku Tak Pantas di Surga Tapi Tangan Masuk Neraka

0
253

Bahana. com – Bubuk Nawas menjadi salah satu wujud populer dalam sejarah Islam. Dia dikenal sebagai penyair yang cerdas sekaligus jenaka.

Semasa hidupnya Abu Nawas juga dekat dengan raja dan pemerintahan. Ia adalah seorang sufi yang kerap memberikan pertuh penuh hikmah dengan dipercaya oleh masyarakat.

Sebagai penyair terkenal di zaman Bani Abbasiyah, Abu Nawas yang memiliki nama asli Abu Ali Alhasan bin Hani Alhakimi sudah mewariskan beragam karangan yang sampai sekarang dihayati umat muslim.

Dikutip dari harakah. id –jaringan Suara. com , Hilmy Firdausy mengatakan salah kepala karangan terkenal Abu Nawas ialah syair Illahi Lastu.

Syair tersebut dianggap sebagai rayuan maut yang ditulis Abu Nawas kepada Tuhan sebagai tanda pertaubatannya.

Bukan tanpa pokok, beberapa ahli menyebutkan, dahulu selain dikenal sebagai pujangga besar, Abu Nawas juga memiliki sisi kelam yakni suka mabuk-mabukan dan berperan wanita.

Di simpulan hayatnya, Abu Nawas kemudian disebut menulis syair Illahi Lastu, yang isinya berisi permohonan supaya Tuhan mengampuni dosa-dosanya.

Berikut bunyi syair Illahi Lastu.

Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan. Wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi. Fa hablii taubatan waghfir zunuubii. Fa innaka ghaafirudzdzambil zhiimi. Dzunuubii mitslu a’daadir rimaali. Fa hablii taubata’ yaa dzaaljalaali. Wa ‘umrii naaqishun fii kulli yaumi wa dzambii zaa-idun kaifah timaali.

Artinya: Tuhanku, Aku tak layak menjadi penghuni Firdaus. & juga tak kuat menghadapi api Neraka Jahim. Maka terimalah taubat dan ampuni dosaku. Karena Engkau adalah Maha pengampun dosa. Dosaku bertebaran layaknya pasir. Terimalah taubatku wahai Dzat yang penuh keagungan. Tiap hari umurku terus redup. Sedangkan dosaku terus bertambah; dengan jalan apa aku akan memikulnya?

Kekinian, syair Abu Nawa ini terus dibaca oleh umat Islam khsusnya di Indonesia. Apalagi di Pulau Jawa bagian timur, syair Abu Nawas dibacakan sesudah selesai saat Jumat karena mengandung unsur makna yang dalam terpaut ketidakberdayaan seorang hamba di depan Tuhannya.