Rencana Sholat Hari Ini dan Rancangan Imsak Makassar 2 Mei 2020

0
281

Suara. com kepala Jadwal Sholat Keadaan Ini dan Jadwal Imsak Makassar 2 Mei 2020

Jadwal sholat hari ini 2 Mei 2020 atau 9 Bulan berkat 1441 H. Jadwal sholat Makassar hari ini berdasarkan Jadwal imsak atau imsakiyah Kementerian Agama Republik Indonesia. Jadwal Sholat Makassar itu menandakan waktu ibadah selama bulan Ramadan.

Meski iklim ramadan kali ini terasa berbeda karena adanya wabah COVID-19, namun amalan puasa tak akan berkurang jika puasa tetap dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Jadwal sholat hari ini:

  • IMSAK 04: 34
  • SUBUH 04: 44
  • TERBIT 05: 58
  • DUHA 06: 26
  • ZUHUR 12: 03
  • ASAR 15: 23
  • MAGRIB 18: 00
  • ISYA’ 19: 11

Untuk memulai ibadah pertarakan ramadan, umat muslim wajib membaca niat puasa ramadan terlebih dahulu.

Ustadz M. Ali Zainal Abidin dari Pengajar dalam Pondok Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember seperti dilansir dari NU. or. id, menjelaskan salah kepala dari sholat fardhu yang telah dilaksanakan oleh seseorang diulang balik, Maka status sholatnya sudah bukan menjadi wajib, tapi berubah menjelma ibadah sunnah. Anjuran mengulang kembali sholat fardhu berdasarkan salah kepala hadits yang diriwayatkan oleh Yazid bin al-Aswad:

“Kami sholat Subuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Tanah Mina. ”

Lalu datang dua orang adam, mereka berdiam di atas kendaraan mereka (tidak ikut sholat). Lalu Rasulullah memerintahkan untuk memanggil itu berdua. Dua orang lelaki itu pun terlihat gemetar ketakutan, Rasulullah berkata pada dua lelaki itu:

“Mengapa engkau tidak ikut sholat bersama orang-orang? Bukankah engkau orang muslim? ”

“Benar wahai Rasulullah, kami telah melaksanakan sholat di tempat kami, ” pikiran dua lelaki tersebut.

Rasulullah lalu berkata: “Jika kalian sudah sholat di tempat kalian, lalu kalian mendatangi imam (sholat jamaah), maka ikutlah sholat bersamanya, sesungguhnya sholat yang kalian lakukan adalah sholat sunnah. ” (HR. Baihaqi).

Namun meneruskan kembali jadwal sholat hari tersebut atau sholat fardhu ini tak selamanya merupakan sebuah anjaran dengan disunnahkan, sebab terdapat berbagai ketentuan dan persyaratan yang harus dipenuhi, agar seseorang dapat mengulang balik sholatnya.

Mengulang balik sholat atau yang biasa dikenal dengan istilah I’adah, hanya disunnahkan tatkala dalam sholat yang perdana terdapat sebuah kekurangan atau kecacatan dalam kesempurnaan sholat yang tak sampai berakibat pada batalnya sholat tersebut.

Misalkan laksana sholat pertama dilakukan tidak dalam keadaan berjamaah, sholat pertama tidak dilakukan di masjid dan lain sebagainya. Sehingga sholat fardhu yang diulang kembali harus lebih lengkap (akmal) jika dibandingkan dengan sholat yang pertama. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji:

“Adapun i’adah adalah ketika seseorang sudah melaksanakan sholat fardhu, lalu tahu terdapat suatu kekurangan, kecacatan di dalam etika sholat atau kesempurnaan sholat, kemudian ia mengulang kembali sholatnya dengan pelaksanaan yang tidak terkandung kekurangan dan kecacatan. Hukum mengulang kembali sholat dalam keadaan serupa itu adalah sunnah. Misalnya seperti seseorang yang telah melaksanakan sholat secara sendirian, lalu ia menemukan orang lain yang melakukan sholat dengan berjamaah, maka ia disunnahkan buat mengulang kembali sholatnya secara jamaah. Sholat fardhu baginya adalah tentu sholat yang pertama, dan sholat kedua menjadi sholat sunnah” (Dr. Musthofa al-Khin, Dr. Musthofa al-Bugha, Ali as-Syarbaji, al-Fiqh al-Manhaji, juz 1, hal. 74).

Selain ketentuan di atas, ada pula lima persyaratan lain yang harus dipenuhi untuk dianjurkannya meneruskan kembali sholat fardhu, kelima sarana tersebut disebutkan dalam kitab Hasyiyah I’anah at-Thalibin berikut ini:

“Kesimpulan yang dijelaskan para ulama’ bahwa mengulangi sholat dihukumi sunnah dengan tiga syarat. Pertama, sholat i’adah dilaksanakan pada waktu sholat. Kedua, mengulang sholat tidak diatas dari sekali. Ketiga, dilaksanakan secara niat fardhu. Dan masih ada syarat lain (syarat keempat) yakni sholat yang diulangi merupakan sholat ada’ (sholat pada waktu itu) bukan sholat qadha’. Dan sarana kelima, sholat yang pertama merupakan sholat yang sah, meskipun sedang butuh untuk diqadla’, seperti halnya sholatnya orang yang bersuci secara tayamum karena faktor kedinginan. ” (Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatha, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, bagian 2, hal. 9).

Jika salah satu dari bervariasi persyaratan yang dijelaskan di atas tidak terpenuhi, maka mengulang balik sholat fardhu (jadwal sholat keadaan ini) menjadi tidak disunnahkan buat dilakukan:

“Jika dalam sholat yang pertama tidak ada suatu kecacatan atau kekurangan, serta sholat yang diulangi tidak lebih sempurna dari sholat yang perdana, maka tidak disunnahkan untuk mengulangi sholat” (Dr. Musthofa al-Khin, Dr. Musthofa al-Bugha, Ali as-Syarbaji, al-Fiqh al-Manhaji, juz 1, hal. 74).

Maka secara ijmal dapat disimpulkan bahwa terdapat enam persyaratan yang harus dipenuhi di dalam kesunnahan mengulang kembali sholat fardhu yang harus dilakukan.

Pertama, sholat kedua harus lebih sempurna dari sholat yang baru.

Kedua, sholat i’adah harus dilakukan pada waktu sholat tersebut masih ada, sehingga tidak disunnahkan mengulang kembali sholat fardhu tatkala waktu sholat tersebut telah habis. Misalkan seperti i’adah sholat Zuhur di waktu ashar, maka hal tersebut tidak dianjurkan.

Ketiga, mengulang sholat hanya satu kali saja.

Keempat, sholat i’adah walaupun sejatinya merupakan sholat sunnah, akan tetapi pelafalan niatnya harus dengan rencana fardhu. Maka dalam lafal niat sholat i’adah sama persis secara niat sholat fardhu yang dilakukan pertama, yakni sama-sama wajib menanamkan lafal “fardha”, misalkan dalam sholat Zuhur niat yang diucapkan ialah ‘Ushalli fardha adz-dzuhri arba’a raka’atin mustaqbil al-qiblati fardhan lillahi ta’ala’.

Kelima, sholat dengan diulang adalah sholat ada’ bukan sholat qadha’, sehingga tidak dianjurkan mengulang sholat yang berstatus jadi sholat qadha’, seperti ketika seseorang melaksanakan sholat subuh terlalu siang, maka ia cukup melakukannya satu kali saja, sebab tidak dianjurkan baginya untuk mengulang kembali sholat subuh tersebut.

Keenam, sholat fardhu yang pertama kudu berstatus sebagai sholat yang tentu, maka ketika dalam sholat yang pertama ternyata diketahui terdapat peristiwa yang membatalkan, maka wajib baginya mengulang kembali sholat tersebut tidak berstatus sebagai sholat i’adah dengan sunnah, tapi sebagai sholat fardhu yang wajib. Wallahu a’lam.