Uni Eropa Peringatkan Efek Samping Obat Malaria bagi Penderita COVID-19

0
466

Suara. com – Badan Kepala Obat Uni Eropa (EMA) di dalam Kamis (23/4/2020) kembali mengingatkan biar tenaga medis tidak menggunakan dua obat malaria, chloroquine dan hydroxychloroquine dalam merawat pasien COVID-19. Pasalnya, kedua jenis obat tersebut memiliki efek samping yang berpotensi kritis.

Lembaga itu menganjurkan obat tersebut sebaiknya digunakan hanya untuk uji coba dan penerapan darurat.

EMA memerosokkan para ahli kesehatan mengawasi sendat kondisi pasien COVID-19 yang diberi obat malaria, chloroquine atau hydroxychloroquine. Para tenaga kesehatan juga diminta mempertimbangkan dengan cermat kemungkinan buah samping, khususnya apabila obat itu diberikan dalam dosis tinggi.

Badan pengawas itu selalu mengingatkan tenaga kesehatan agar terus memantau keadaan pasien yang menggunakan obat itu bersamaan dengan obat lain.

Dua obat malaria itu dinilai berpotensi menjadikan jantung berdetak tidak normal. Kedudukan itu dapat kian parah seandainya obat malaria tersebut dikonsumsi berbenturan dengan antibiotik azithromycin.

Obat Chloroquine. (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)

Hydroxychloroquine telah digunakan untuk menyembuhkan pasien COVID-19 di beberapa negara, khususnya Amerika Serikat. Obat tersebut mulai digunakan karena ada petunjuk kurang lengkap yang menduga tablet anti-malaria itu berkhasiat.

Presiden AS Donald Trump sempat mengklaim hydroxychloroquine sebagai “faktor pengubah” dalam perang melawan COVID-19, keburukan yang disebabkan jenis baru virus corona (SARS-CoV-2). Penyakit menular itu saat ini telah menewaskan lebih dari 186. 000 orang dalam seluruh dunia.

Akan tetapi, analisis dari Pranata Kesehatan Veteran AS yang telah diajukan untuk diperiksa para cakap, menunjukkan hydroxychloroquine tidak memiliki kebaikan menyembuhkan COVID-19 bahkan sebaliknya obat itu berpotensi menyebabkan kematian anak obat yang dirawat di rumah rendah veteran AS.

EMA pada Kamis (23/4/2020) mengatakan uji coba dalam jumlah besar telah dibuat guna mengetahui kemampuan obat malaria itu menyembuhkan pasien COVID-19. Namun, belum ada kesimpulan akhir dan tidak ada temuan yang memperlihatkan obat itu manjur menyembuhkan pasien COVID-19.

Laporan hasil uji coba mencatat dua obat, yang disetujui untuk menyembuhkan penyakit malaria, lupus dan radang sendi, justru berpotensi menyebabkan gangguan hati dan ginjal, serta kerusakan sel saraf beserta menurunkan kadar gula dalam darah. (Antara)