Bom di Gereja Makassar: Adat Penanganan Terorisme Tidak Bisa Kendur

0
406

Suara. com – Analis intelijen serta terorisme menilai momen menyambut Paskah dimanfaatkan pelaku sebagai aksi perlawanan pada bagian berwenang yang tengah sungguh-sungguh memberantas jaringan teror. Adat penanganan terorisme diminta tak kendur.

Perihal peristiwa bom bunuh diri di sekitar Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/03) waktu setempat, analis intelijien dan terorisme Stanislaus Riyanta menduga kuat bahwa pelaku berasal dari ikatan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

“Dilihat dari karakteristik dan model aksinya, kemungkinan luhur pelaku berasal dari kawanan Jamaah Ansharut Daulah. Jalan ini berdasar atas ragam aksi yang sama dengan teror di Gereja Surabaya dan Polrestabes Medan, ” ujar Stanislaus saat dihubungi DW Indonesia, Minggu (28/03) siang.

Stanislaus berpendapat bahwa aksi itu sebagai bentuk balas dendam atau perlawanan jaringan teror mengingat upaya penegak kaidah kini yang sangat intens dalam memberantas jaringan teror.

Baca Juga: Tersibak! Bahan Peledak Bom Makassar: Bisa Dibeli Online

“Aksi ini bisa juga sebagai pesan dari kelompok teror yang semakin terdesak bahwa mereka masih eksis, ” katanya.

Ia menambahkan kalau momen jelang perayaan Paskah dianggap pelaku sebagai paksa untuk melancarkan aksinya.

“Minggu Palma mau banyak umat yang beribadat dan pengamanan lebih longgar keamanannya daripada bilamana malam atau minggu Paskah, ” kata Stanislaus.

Jokowi kutuk keras teror peledak bunuh diri di Makassar

Menanggapi peristiwa ini, Presiden Joko Widodo mengutuk aksi teror yang terjadi di Gereja Katedral di Kota Makassar.

Baca Juga: Pastor Minta Umat Berikan Ampunan ke Karakter Bom Gereja Katedral Makassar

Jokowi sudah memerintahkan Kapolri untuk mengusut tuntas kasus tersebut dan membongkar jaringan pelaku teror hingga ke akarnya.

“Saya mengutuk cepat aksi terorisme tersebut & saya sudah memerintahkan Kapolri untuk mengusut tuntas jaringan-jaringan pelaku dan membongkar jaringan tersebut sampai ke akar-akarnya, ” kata Jokowi pada Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Minggu (28/03).

Jokowi menegaskan kalau terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tidak berkaitan dengan ajaran agama apa pun.

“Semua ajaran agama menolak gerak-gerik teror apapun itu alasannya. ”

Ia pun mengimbau masyarakat buat tetap tenang dalam melayani ibadah. Ia juga mengirimkan bahwa negara menjamin “keamanan umat beragama untuk beribadah tanpa rasa takut. ”

“Saya mengajak semua bagian masyarakat untuk bersama-sama memerangi terorisme, memerangi radikalisme yang bertentangan dengan nilai-nilai keyakinan, nilai-nilai luhur kita jadi bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebinekaan, ” tutur Jokowi.

Senada dengan Jokowi, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menilai aksi bom pati padam diri di Makassar sebagai tindakan keji yang mencacatkan ketenangan hidup bermasyarakat & jauh dari ajaran petunjuk.

“Apa biar motifnya, aksi ini tidak dibenarkan agama karena dampaknya tidak hanya pada diri sendiri juga sangat mudarat orang lain, ” perkataan Yaqut dikutip dari detikcom, Minggu (28/03).

Tindakan pencegahan tidak bisa kendur Sementara itu, Eksekutif Riset SETARA Institute Halili Hasan, menyampaikan bahwa peristiwa bom bunuh di Makassar merupakan sinyal keras untuk seluruh pihak, terutama pemerintah untuk tidak pernah kendur dalam “melaksanakan protokol pengerjaan ekstremisme-kekerasan, baik di ranah pencegahan maupun penindakan. ”

“Di pusat konsentrasi tinggi pemerintah di penanganan dampak pandemi, perhatian pada penanganan ekstremisme-kekerasan lestari tidak boleh berkurang, ” katanya dalam pernyataan tercatat yang diterima DW Indonesia, Minggu (28/03) siang.

Selain itu SETARA Institute juga mendesak pemerintah dan elemen masyarakat biasa di daerah untuk saling bekerja sama dalam melakukan tindakan pencegahan ekstremisme-kekerasan salah satunya dengan membangun linkungan yang toleran dan penuh.

“Penerimaan tempat kebinnekaan merupakan prediktor pokok bagi keberhasilan penanganan ekstremisme kekerasan dan bagi pengukuhan kebinekaan, ” kata Halili.

Sebelumnya, bom bunuh muncul meledak di depan Gereja Katedral Makassar pada pukul 10. 28 WITA di Minggu (28/03).

Ledakan tersebut terjadi sudah gelaran misa Minggu Palma selesai digelar di Gereja Katedral Makassar.

Pelaku bom bunuh muncul diduga dilakukan dua orang dengan menggunakan motor. Akibat peristiwa ini, 14 orang mengalami luka-luka dan besar orang meninggal dunia.

“Ada ledakan cepat ini, terjadi di aliran pintu gerbang Gereja Katedral, tentunya dengan adanya ledakan tadi dari pihak kepolisian, jajaran hadir ke TKP. Setelah kita lakukan laku TKP, mendapatkan informasi bahwa ada dua orang karakter, ” kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono dalam konferensi pers, Minggu (28/03). rap/yp (dari berbagai sumber)