Nobar Film G30S/PKI Tak Direstui Penjaga, PA 212 Protes

0
88

Suara. com kepala Di detik-detik menjumpai 30 September ini, banyak bagian berencana menyelenggarakan nonton bareng (nobar) film G30S/PKI secara langsung dalam tempat terbuka.

Namun, rencana tersebut terancam urung kausa pihak kepolisian secara tegas melarang pemutaran film tersebut karena bahan membuat kerumunan massa di pusat pandemi Covid-19.

Dilansir dari hops. id — jaringan Suara. com, Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Awi Setiyono menyebut agenda semacam itu bisa membahayakan kesejahteraan terkait dengan penyebaran virus corona.

“Polri tidak akan mengeluarkan izin untuk keramaian. Kalau mau nonton film G30S PKI ya silakan, nonton (di rumah) masing-masing, ” ujar Awi Setiyono, Selasa (29/09/2020).

Ia memastikan, pihaknya tidak akan menggunakan izin demi keselamatan nyawa klub luas dalam masa pandemi Covid-19 ini.

Inspektur upacara memberi sambutan era ‘Apel Siaga Ganyang Komunis’ di Lapangan Ahmad Yani, Kebayoran Periode, Jakarta Selatan, Minggu (5/7). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Buntut dari ketegasan polisi tersebut, Persaudaraan Alumni (PA) 212 menanggapinya dengan sinis.

Melalaikan Ketua PA 212, Slamet Ma’arif, mereka protes kepada polisi supaya pemutaran tetap bisa dilangsungkan.

“Harusnya Polri mengikuti mendesak TV pemerintah ataupun preman untuk putar kembali film G30S PKI, ” ujar Slamet Maarif.

Meski begitu, Slamet bisa memaklumi akan bahaya transmisi Covid-19 jika ada kerumunan pengikut. Oleh sebab itulah, pihaknya memaksa kepolisian agar bisa membuat TV nasional dan swasta menayangkan film itu.

“Makanya kita sudah minta biar semua TV tayangkan film G30S PKI supaya masyarakat (bisa) nonton dari rumah masing-masing, sehingga tidak ada kerumunan massa, ” imbuh Slamet.

Di bagian lain, Menkopolhukam Mahfud MD, tidak melarang televisi menayangkan film keluaran Orde Baru tersebut. Menurutnya, pemutaran sepenuhnya diserahkan kepada pihak televisi sesuai dengan hak siar mereka.

“Untuk TV-TV, bakal menayangkan atau tidak, tergantung kontraknya dengan pemegang hak siar, cocok pertimbangan rating dan iklannya sendiri-sendiri, ” ujar Mahfud.