Ribuan Ternak Babi Mati, Dinas Peternakan NTT Tetapkan Siaga Satu

0
194

Suara. com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui dinas peternakannya telah menetapkan siaga satu, sesudah hampir tiga ribu hewan ternak babi di lima kabupaten pasif, akibat diduga terserang Virus African Swine Fever (ASF). Lima kabupaten tersebut adalah Belu, Malaka, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Daksina, Kabupaten Kupang dan Kota Kupang.

Hanya Flores yang belum terjangkit, sehingga diperlukan langkah antisipatif terhadap pengendalian sekaligus menutup mata rantai penyebarannya.

Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak segera dengan menurunkan tim investigasi semenjak Jumat (11/7/2020). Tim bertugas untuk melakukan supervisi dan monitoring kejadian Virus ASF.

“Kami terjun langsung memantau guna menjemput langkah cepat dan strategis untuk menangani wabah ini, ” sebutan Inspektur IV, Inspektorat Jendral, Kementan, drh. IGMN Kuswandana, Ketua Awak Investigasi ASF, saat adiensi secara gubernur NTT, bupati dan Dinas Pertanian kabupaten Sikka, Kupang menggunakan keterangan tertulisnya, Selasa (14/7/2020).

Menurut Made, hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo agar kejadian virus ganas pada hewan ternak babi idapat segera diatasi, karena dapat merugikan peternak.

Virus ASF belum ada vaksinnya, dan mengakibatkan kematian dengan tingkat mortalitas dan morbiditas hingga 100 persen.

Sementara tersebut, Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Badan Karantina Pertanian (Barantan), drh. Agus Sunanto, yang turut hadir dan menjadi anggota tim menyebutkan, Negara Timor Leste, yang berada satu daratan dengan NTT telah melaporkan kejadian wabah Virus ASF di wilayahnya lebih dahulu.

“Dengan letak geografis dalam satu daratan, maka NTT memiliki potensi dan peluang yang cepat di penularannya, seperti saat ini yang telah terjadi di lima kabupaten, ” kata Agus.

“Belum lagi ditambah dengan pola pemeliharaan ternak babi secara ijmal yang masih dilepasliarkan, sistem biosekuriti yang belum kuat dan berbagai upaya penyelundupan komoditas babi serta produknya yang masih terjadi, ” ungkap Agus.

Ia menambahkan, pihaknya menggunakan wilayah kerja di NTT, yaitu Karantina Pertanian Kupang dan Ende telah melakukan optimalisasi pengawasan dalam berbagai pintu pemasukan seperti bandara, pelabuhan dan pos lintas batas negara dan akan terus ditingkatkan.

Penderasan informasi serta sosialisasi pada masyarakat juga sudah dilakukan dan terus dijadikan arah dari upaya pengawasan dan pengendalian. Kerja sama dengan dinas pertanian dan pihak terkait juga hendak ditingkatkan.

“Kita tekan jumlah ternak babi terkena virus di lokasi kejadian, sekaligus kita putus mata rantai penyebarannya pada 17 kabupaten yang masih luput, ” papar Agus.

Pada saat yang bersamaan, Awak Investigasi ASF Kementan juga menuju Kabupaten Sikka, dimana terjadi mair ternak juga untuk melakukan monitoring dan sosialisasi.

Turut hadir Direktur Kesmavet, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, drh. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, yang memberikan bantuan berbagai alat biosekuriti semacam sprayer dan disinfektan. Sementara tim dari Balitbangtan, yang terdiri daripada BBLitvet, BBVet Denpasar, ditambah penguasa medik veteriner dan paramedik veteriner dari Karantina Pertanian Ende, masuk langsung untuk melakukan pengambilan sampel langsung ke rumah-rumah warga dengan memiliki ternak babi.

Walaupun penyakit ini tak bersifat zoonosis, namun dampaknya yang cukup signifikan bagi peternak, maka pengawasan karantina pertanian perlu diperkuat dengan ancaman tindakan pidana bagi para pelaku yang melanggar susunan karantina.

“Perlu menyerahkan efek jera agar tidak tersedia lagi yang coba-coba melanggar & para pihak lebih serius dalam memperkuat pencegahan ASF ke NTT, ” tutup Made.