Kerjakan Gebrakan Pendidikan, Mendikbud Apresiasi Pengasuh dari Maluku dan Bali

0
218

Suara. com – Menteri Pendidikan dan Departemen Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, menyatakan apresiasinya kepada dua instruktur dari Maluku dan Bali, dengan dinilainya melakukan gebrakan dalam negeri pendidikan Indonesia. Nadiem menyatakan, besar guru tersebut merupakan contoh mungil dari guru-guru lain di Indonesia yang memiliki banyak prestasi cakap.

Hal tersebut diutarakan Nadiem saat meluncurkan “Merdeka Belajar Episode Kelima: Guru Penggerak”, dengan dilaksanakan secara webinar dan disiarkan langsung melalui kanal youtube Kemendikbud RI, Jumat (3/7/2020), pukul 13. 00 WIB.

Nadiem menyebut, tidak ada perubahan dengan bisa dilakukan tanpa berdarah-darah. Seluruh hasil yang diinginkan, pasti bakal dilalui dengan perjuangan.

“Kalau kita tidak tabah & tidak berdarah-darah, maka hasil dengan diinginkan tidak akan terwujud. Hamba sangat mengapresiasi apa yang telah ibu dan bapak lakukan, beta juga semakin bersemangat ketika mengindahkan perjuangan Anda, ” ujar Nadiem.

Dalam peluncuran tersebut, Nadiem sempat melakukan komunikasi _teleconference_ pada zoom webinar dengan dua guru penggerak di Maluku dan Bali. Nadiem memulai perbincangannya secara Mariance Wila Dida, Kepala Sekolah SD Negeri 9 Masohi, Maluku Tengah.

Perempuan yang akrab dipanggil Ibu An ini bercerita kepada Nadiem, banyak tantangan yang harus dihadapi saat mentransformasi SD Negeri 9 menjadi sekolah yang ramah anak. Ironisnya, cuma ada tiga guru yang menyetujui keputusannya untuk ide trasformasi itu.

Butuh waktu & perjuangan untuk mendekati guru-guru jadi mau bekerja sama dengannya mewujudkan sekolah ramah anak tersebut. Walau terkesan bergerak lambat, namun kemajuan demi kemajuan dalam proses pendidikan terwujud.

Keberhasilan lainnya, lanjut An, murid pun bisa menyelesaikan konflik tanpa kudu menggunakan kekerasan. Mereka saling menyapa satu sama lain, murid menjadi semakin bersemangat dalam belajar, & para murid pun bisa belajar mandiri.

“Semua perjuangan yang kami lakukan telah menyulut hasil yang sangat positif kepada tumbuh kembang anak, ” ujarnya.

Anak Keluarga Miskin Bisa Madrasah ke Luar Negeri

Pada kesempatan yang sepadan, Kepala Sekolah SMAN 1 Bali Mandara, Bali, Nyoman Darta, serupa mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan Nadiem. Ia bercerita bahwa ia memimpin sekolah yang 100 persen muridnya berasal dari keluarga tidak mampu.

“Walaupun itu dalam keterbatasan, guru-guru terus berjuang untuk mendidik murid-muridnya hingga menghunjam ke pergguruan tinggi terbaik di Indonesia, bahkan mancanegara, ” katanya.

Darta mengatakan, masa membina sekolah SMA Negeri 1 ini, Darta merasa yakin bahwa setiap anak memiliki potensi yang unik, meski berasal dari suku tidak mampu. Sejak anak-anak itu masuk ke SMA-nya, Darta & para guru menanamkan dalam moral mereka soal cita-cita yang mereka inginkan.

“Kami mengambil mereka untuk bermimpi dan tetap dengan mimpi itu. Di danau semua murid menangis. Setelah lengkap menulis, cita-cita tersebut dimasukan ke dalam botol, dan saya simpan. Nanti, 3 sampai 5 tarikh ke depan, mereka akan buka, sudah tercapai atau belum cita-cita mereka, ” ujarnya.

Di akhir obrolan, Nadiem menyatakan harapannya agar para kiai penggerak bisa menjadi obor perubahan, terutama dalam bidang pendidikan.

“Guru penggerak tidak cukup jadi guru yang baik. Tempat harus menggerakkan guru-guru lain, menjelma obor perubahan bagi dunia pelajaran Indonesia, ” ujarnya. –