Tanda Operasional KRL Ditambah Hingga Pukul 9 Malam di Masa PSBB Transisi

0
412

Suara. com – PT Andong Commuter Indonesia (KCI) menambah tanda operasional KRL Commuterline mulai memukul 04. 00 hingga 20. 00 WIB menjadi pukul 04. 00—21. 00 WIB selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pertukaran mulai Senin (8/6/2020).

Jam operasional tersebut akan mengakomodasi pengguna KRL yang beraktivfitas kembali sehingga KCI mengimbau untuk merencanakan perjalanan dengan cermat.

“Kemungkinan adanya antrean pengguna sehubungan aturan jaga jarak aman & batasan kapasitas di dalam kereta bisa saja terjadi, ” kata pendahuluan VP Corporate Communications PT KCI Anne Purba di Jakarta, ditulis Senin (8/6/2020).

Agar tidak tergesa-gesa dalam menggunakan KRL, KCI mengimbau para pengguna merencanakan perjalanan dengan cermat, terutama tiba Senin (8/6).

Secara jam operasional yang diperpanjang, introduksi Anne, perjalanan KRL juga berserang dari 784 perjalanan menjadi 935 perjalanan setiap harinya.

Penambahan tersebut akan menjadi penyelesaian meminimalisasi kemungkinan kepadatan pada setiap rangkaian kereta.

Tetapi, kata Anne, antrean maupun kepadatan diperkirakan sulit dihindari bila pola aktivitas para pengguna KRL terpusat pada jam-jam sibuk pagi serta sore hari.

PT KCI pun tidak menekan jarak waktu antarkereta atau headway, terutama pada jam-jam sibuk.

Di lintas Bogor, headway pada jam sibuk tetap 5 menit dengan 124 perjalanan KRL pada jam sibuk pagi keadaan dan 126 perjalanan pada sore hari.

Lintas Bekasi, headway pada tanda sibuk adalah 10—15 menit dengan 51 perjalanan KRL pada jam sibuk pagi hari dan 55 perjalanan pada sore hari.

Di lintas Rangkasbitung/Serpong, headway pada jam sibuk adalah 10—15 menit dan 30 menit untuk kereta-kereta pemberangkatan maupun tujuan Rangkasbitung dengan keseluruhan 58 perjalanan di dalam jam sibuk pagi hari & 67 perjalanan pada sore keadaan.

Sementara itu, di lintas Tangerang, headway pada jam sibuk adalah 18—20 menit dengan 26 perjalanan pada jam giat pagi hari dan 31 kunjungan pada sore hari.

“Jumlah frekuensi perjalanan dan jarak waktu antarkereta saat ini sudah dimaksimalkan. Di lintas Bogor, misalnya, sudah sangat sulit menambah penjelajahan kereta karena headway sudah maksimal sesuai dengan kapasitas prasarana perkeretaapian yang tersedia, ” katanya.

Sebagian jalur rel selalu masih dipakai bersamaan dengan jenis kereta lain, misalnya KLB (kereta luar biasa) antarkota dan kereta yang mengangkut logistik.

Dengan frekuensi perjalanan yang tidak dapat berubah banyak, PT KCI memperpanjang rangkaian kereta menjelma mayoritas 10 dan 12 gerobak dalam satu rangkaian.

KCI saat ini memiliki 36 rangkaian kereta dengan formasi 12 kereta, 41 rangkaian kereta dengan formasi 10 kereta, dan 35 rangkaian kereta dengan formasi 8 kereta. Setiap harinya 88 rangkaian KRL beroperasi melayani masyarakat.

Adapun sisanya merupakan gerobak cadangan untuk pengganti saat tersedia kereta yang mengalami kendala teknis, antisipasi saat perlu mengeluarkan kereta tambahan, dan rangkaian kereta dengan sedang menjalani perawatan rutin.

Pada masa transisi tersebut, KCI masih mengikuti aturan sejak pemerintah mengenai jumlah pengguna yang diizinkan dalam satu kereta yakni 35 persen dari kapasitas penuh.

Dengan demikian, buat menjaga kapasitas dan jarak tenteram (physical distancing) di dalam kereta, kata Anne, pengguna akan diatur melalui beberapa titik penyekatan sebelum masuk ke peron untuk naik kereta.

Penyekatan itu juga sudah berlangsung selama kala PSBB, saat jumlah pengguna KRL turun lebih dari 80 upah.

Penyekatan untuk mendahulukan physical distancing di dalam andong ini terkadang membawa konsekuensi logis, yaitu adanya antrean pengguna di stasiun-stasiun.

Secara PSBB transisi, jumlah pengguna KRL akan kembali meningkat. Maka, peluang akan terjadi juga antrean pengguna pada jam-jam sibuk.

“Untuk itu, KCI telah merancang petugas yang mengatur antrean biar tetap menjaga jarak. Di sebanyak stasiun dengan jumlah pengguna tertinggi, anggota TNI dan Polri pula hadir guna memastikan antrean berlaku tertib dan sesuai dengan aturan COVID-19, ” kata Anne.

PT KCI telah melengkapi lokasi penyekatan di stasiun secara marka antrean. Marka dibuat sebagai pedoman dalam mengantre dan biar pengguna tidak perlu selalu berinteraksi dengan petugas, demi meminimalisasi risiko penularan.

Selain bersiap merencanakan perjalanan, KCI kembali mengingatkan pengguna untuk melengkapi diri dengan perlindungan kesehatan yang dirasa perlu. Pengguna tetap diwajibkan untuk mematuhi masker dan mengikuti pengukuran suhu tubuh.

Pengguna pula dianjurkan cuci tangan dengan air mengalir dan sabun sebelum dan sesudah naik KRL. Manfaatkan sarana wastafel tambahan yang telah ada di 72 stasiun.

Untuk meminimalkan risiko, pengguna juga dapat memakai pelindung wajah (face shield), membawa cairan pembersih tangan (hand sanitizer), dan menggunakan menyarung tangan. (Antara)