Penyelidik UGM: Mobilisasi Isu Negara Agama islam di Medsos Masih Berjalan

0
419

Suara. com – Peneliti Pusat Studi Pegangan dan Lintas Budaya (CRCS) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Mohammad Iqbal Ahnaf menilai ruang jalan sosial masih terbuka dijadikan sebagai sarana mobilisasi isu negara Islam.

“Memang, dengan pembatalan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), kesadaran masyarakat meningkat sehingga akses itu relatif menyempit, ” kata Dr. Mohammad Iqbal Ahnaf dalam dialog bedah buku berjudul The Illusion of an Islami State dengan daring, Selasa (12/5/2020).

Namun, Iqbal mengingatkan bahwa menyempitnya akses kelompok tersebut untuk mengerahkan gagasan negara Islam hanya pada ruang-ruang tertentu.

Artinya, kata dia, masih banyak tempat yang mereka gunakan leluasa buat mobilisasi dan propaganda gagasan negara Islam, terutama di medsos.

“Mereka tidak menggunakan istilah khilafah, Hizbut Tahrir. Bahkan, bendera HTI pun tidak dipakai. Itu menggunakan istilah-istilah yang ramah dengan khalayak muslim, seperti ‘Yuk Ngaji’, ‘Ngaji Keren’, dan sebagainya, ” katanya.

Menurut tempat, model kamuflase dalam bahasa ataupun istilah lain yang lebih gampang diterima itu pasti digunakan jadi harus diwaspadai.

Sebenarnya, kata dia, misi utama Hizbut Tahrir adalah mendeligitimasi tatanan politik yang ada dengan mengeksploitasi gawat yang dimaknai sebagai kegagalan bentuk pemerintahan yang ada.

Bahkan, kata dia, jalan penanganan Covid-19, kemiskinan, hingga masalah sepele pun bisa dieksploitasi sebagai kegagalan sistem yang pada belakangan ditawarkan solusinya dengan konsep negeri Islam.

Sementara tersebut, pengamat terorisme Universitas Muhammadiyah Jakarta Debbie Affianty menyoroti maraknya pelibatan keluarga, terutama perempuan dan anak-anak, dalam aksi terorisme beberapa zaman belakangan.

Menurut dia, pelibatan keluarga tersebut dalam aksi terorisme relatif gampang dilakukan dengan memanfaatkan kepatuhan anak terhadap orang tua dan loyalitas istri terhadap suami.

“Apakah akan berhenti sampai pada situ? Makin diekspose maka yang lain akan makin terinspirasi, ” katanya.

Denbie juga mengesahkan bahwa medsos menjadi ruang dengan terbuka bagi kelompok-kelompok yang ingin memobilisasi gagasan negara Islam, tercatat gerakan-gerakan terorisme.

Pada diskusi daring itu, hadir pula Nur Dhania, korban propaganda ISIS yang menceritakan awal mula tertarik dengan gerakan radikal itu daripada situs jejaring sosial atau medsos.

Apalagi, Dhania mengesahkan ketika itu masih berusia 15—16 tahun yang sedang labil-labilnya, penuh semangat, dan emosi karena di masa pencarian jati diri, kemudian banyak mencari tahu melalui medsos. [Antara]