Bikin Heboh, Kini Puasa Ramadan kendati Ada yang Usulkan Ditunda sebab Corona

0
467

Suara. com – Pandemi corona Covid-19 yang melanda dunia telah membuat banyak kesibukan dibatalkan atau ditunda, baik tersebut di bidang ekonomi, sosial-budaya, termasuk olahraga. Banyak negara juga telah membatasi pergerakan luar ruangan ataupun aktivitas sosial warganya karena penyebaran Covid-19 yang masih terus meluas.

Salah satu dengan terkini, bahkan puasa Ramadan dengan segera menjelang pun ada yang mengusulkan untuk ditangguhkan atau ditunda pelaksanaannya, atas dasar kekhawatiran kian meluasnya penyebaran corona. Pendapat atau seruan itu tepatnya muncul sejak salah seorang politisi Aljazair bernama Noureddine Boukrouh.

Sama dengan dikutip dari pemberitaan di laman MiddleEastMonitor, Rabu (15/4/2020), Boukrouh di intinya mengimbau agar ibadah pertarakan Ramadan tahun ini ditangguhkan dulu. Pertimbangannya menurutnya adalah karena “(puasa) memiliki risiko kesehatan dan mampu berkontribusi pada meluasnya coronavirus”.

Seorang polisi di salah satu sudut Kota New Delhi, India, menunjukkan imbauan agar beribadah dari rumah semasa pandemi corona. (Foto: AFP)

Noureddine Boukrouh sendiri menyampaikan pendapat sekaligus imbauannya agar puasa ditunda itu lewat suatu artikel berjudul “Coronavirus dan Peradaban” yang diunggahnya di laman media sosial Facebook.

“Umat Muslim harus (memilih) menunda bertarak, karena tubuh yang lapar mampu meningkatkan kerentanannya (terinfeksi) dan dapat memicu penyebaran Covid-19, atau (mereka) memilih untuk tetap berpuasa dengan risiko penyebaran lebih luas virus tersebut, ” tulis mantan pimpinan Partai Pembaruan Aljazair itu.

Untuk diketahui, Aljazair merupakan salah satu negara di tempat Afrika Utara yang antara asing berbatasan dengan Maroko, Tunisia, juga Libya. Berpenduduk sekitar 43 juta jiwa, sebanyak 99 persen warganya adalah umat Islam.

Kontan, pandangan sekaligus seruan Boukrouh itu memancing kontroversi sekaligus reaksi keras, terutama di media sosial, hingga membuat heboh negerinya. Beberapa berpendapat bahwa imbauan Noureddine Boukrouh itu bisa memicu munculnya yurisprudensi dalam penanganan krisis (corona) zaman ini. Sementara, banyak pihak asing mengecamnya karena dinilai mengintervensi urusan “murni soal religius di mana hanya ahli agama dan medis yang bisa memastikannya”.

Infografis 1 nabati tangkal corona. (Dok. Suara. com)

Sekitar ini, sebagaimana catatan MiddleEastMonitor, belum ada komentar dari Kementerian Perkara Agama maupun dari lembaga keyakinan lainnya di Aljazair terkait imbauan yang membuat heboh tersebut. Noureddine Boukrouh sendiri menyatakan bahwa tempat menulis artikel itu setelah suatu diskusi di Masjid Al-Azhar terkait hal ini pada 7 April lalu.

Pada pasar lalu, juga disampaikan antara lain melalui Facebook, Al-Azhar International Centre for Electronic Fatwa menyatakan bahwa “seorang Muslim tidak boleh meniadakan puasa Ramadan kecuali dokter menetapkan dan membuktikan secara ilmiah bahwa puasa itu membuatnya rentan kepada infeksi dan kematian akibat coronavirus; sebuah fakta yang belum terbukti secara ilmiah hingga saat ini”.